Kamis, 10 Desember 2009
Mengapa Yang Lain Bisa
Menyenangkan sekali jika kita bisa sukses mencapai apa-apa yang kita inginkan. Segala sesuatunya berjalan begitu mudah, begitu indah. Kebebasan finansial, kebebasan berbuat sosial, kebebasan waktu, kebebasan berbuat sesuka hati dan lain-lain.
Bagi kebanyakan orang, kesuksesan ini seperti barang yang sangat langka, sangat sulit untuk diraih . Banyak rintangan yang harus dilalui, banyak hambatan yang harus diterjang, banyak biaya dan tenaga yang harus dikeluarkan. Perasaan senang melihat orang lain berhasil, tidak iri, tidak dengki dan tidak berprasangka yang bukan-bukan, mungkin hanya inilah yang banyak dinikmati orang, yach …. setidaknya sudah jadi bagian dari kebajikan bagi dirinya. Tetapi akan lebih baik, jika kita sendiri yang bisa merasakan keberhasilan dan bisa berbagi dengan yang lain.
Terkadang kita bertanya-tanya, mengapa mereka bisa ini, bisa itu dan bisa meraih ini, bisa meraih yang lainnya ? sedangkan kita …. ? Sepertinya sangat sulit, bahkan sering terlintas dibenak kita bahwa hal itu tidak mungkin bisa kita raih. Ujung-ujungnya, kita sering menyalahkan takdir seraya berucap “Sudahlah jangan terlalu difikirkan, ini sudah nasib dan takdir kita, biarlah mereka saja yang merasakannya, lalu do’akan agar mereka ingat pada kita-kita”.
Sebenarnya banyak hal yang bisa menyebabkan kenapa kita tidak bisa sukses seperti mereka. Salah satunya, kita sering terbawa oleh situasi yang mengecilkan diri kita sendiri. Misalnya ketika kita melihat seseorang yang sudah sukses dalam hidupnya, tanpa disadari kita sering berucap, “pantas saja dia itu keturunan orang kaya, pantas saja dia itu seorang sarjana, pantas saja dia itu banyak saudaranya yang kaya, dan pantas-pantas yang lain yang secara tidak sadar kita berikan gelar padanya, sedangkan disisi lainnya, kita sering melemahkan kekuatan diri kita sendiri. Contohnya :
- Sudahlah nasib kita memang disini tempatnya.
- Kita ini keturunan orang miskin, sekolah aja ga tamat, mana mungkin seperti mereka.
Padahal dalam kenyataan hidup ini, tidak semua orang yang sukses, berasal dari kalangan ningrat, tidak semua orang yang berjaya, dari keturunan orang kaya, tidak semua orang yang kaya, lulusan sarjana. Semua berpeluang memperolehnya, semua berhak memperjuangkannya, bahkan semua bisa meraihnya. Tergantung seberapa besar perjuangan dan pengorbanan untuk mencapainya.
Jika yang lain bisa meraih apa-apa yang diimpikannya, bukan semata-mata karena mereka keturunan orang kaya, bukan karena mereka seorang sarjana, tetapi lebih banyak ditentukan oleh sikap dan perjuangannya. Memang segala sesuatu itu pasti memerlukan pengorbanan dan perjuangan, tetapi ini tidak boleh dijadikan halangan untuk meraih yang diinginkan.
Perlu diingat bahwa segala sesuatu ada proses yang menyertainya. Tidak ada satu hal pun yang instan terjadi begitu saja. Ini bukan zamannya “simsalabim abracadabra” jangan berharap keberuntungan datang sendiri menghampiri. Sebagian besar keberhasilan ditentukan oleh usaha yang dilakukan diri sendiri, hanya sebagian kecilnya berasal dari bantuan dan dukungan pihak lain, sisanya dari keberuntungan. Oleh karena itu jangan selalu mengecilkan potensi diri, karena sesungguhnya ini kunci dari segala kunci.
Manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan, telah diberikan Karunia dengan sebaik-baik bentuk, sebagaimana Firman Alloh dalam Surat At Tin (Surat 95, ayat 4 ) yang artinya “Sesungguhnya, manusia itu telah Kami ciptakan dengan bentuk yang sebaik-baiknya” bahkan tidak hanya bentuk, Alloh juga memberikan perangkat akal yang luar biasa, yang membedakan manusia dengan makhluk-makhluk lainnya.
Mulai sekarang, jangan pernah lagi mengecilkan kemampuan diri sendiri, syukuri dan nikmati apa-apa yang kita miliki, manfaatkan potensi diri untuk meraih posisi yang dicari. Go Freedom, Go Platinum … Salam sukses untuk semua, semoga berhasil.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar